Powered By Blogger

Monday, April 18, 2016

YANG TERBAIK DARI ALLAH SWT

Sore itu kulihat suamiku mondar mandir keluar masuk ruangan dengan wajah murung. Aku tahu sebabnya, dia tidak diterima dalam seleksi masuk S-2 di sebuah lembaga pendidikan yang dia inginkan, walaupun hasil test dia terbaik dari hasil tes peserta yang lain, dengan alasan suamiku telah diterima di lembaga lain yang masih ada dalam satu naungan.
Suatu hal yang sangat wajar bila dia kecewa. Namun aku mencoba untuk menghibur walau aku sendiri merasakan kesedihan yang sama, dengan mengatakan: "Sudahlah Bi, Insya Allah ada hikmahnya. Mungkin ini pilihan yang terbaik dari AllAh buat kita".
Suamikupun berusaha untuk melapangkan hati, berusaha menghilangkan kekecewaan, dan menjalani pilihan Allah itu dengan sungguh-sungguh. Dengan rasa yakin, Allah pasti memberi yang terbaik.
Benar saja, dalam perjalanan kuliah, Allah memberikan kepada suamiku tempat kerja yang memungkinkan untuk memperoleh beasiswa belajar. Padahal sekiranya suamiku diterima di lembaga yang dia inginkan, tidak ada program beasiswa disana, walaupun diakui secara kualitas pendidikan di lembaga tersebut mungkin lebih baik.
Beberapa bulan sebelum beasiswa turun, negeri ini dilanda krisis ekonomi. Segala kebutuhan pokok naik, biaya transport naik, dan usaha yang dirintis suamiku tidak lancar. Apabila suamiku diterima di lembaga pendidikan yang dia inginkan, mungkin study-nya tidak selesai, dan pekerjaanpun lepas entah kemana.
Inilah sekilas pengalaman pribadi kami, yang mungkin dapat diambil hikmahnya. Bahwa, seringkali kita sulit menerima kenyataan yang ditentukan oleh Allah Sang Penguasa kepada kita. Hingga kita banyak berkeluh kesah, memendam kekecewaan yang panjang dan bersu’udzon kepada Allah. Bahkan ada yang sampai berani mengatakan, Allah tidak adil (na’udzu billahi min dzaalik).
Demikianlah, kehidupan kita senantiasa diwarnai dengan kejadian yang senantiasa berpasangan. Ada senang ada susah, ada kesuksesan ada kegagalan. Yang sering kali kita tidak mengerti dan tidak mampu memahami hikmah dibalik setiap peristiwa. Yang kesemuanya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas setiap rahmat yang dianugerahkan kepada kita, dan bersikap sabar dalam setiap ujian.
Kita harus meyakini sepenuhnya bahwa Allah Pencipta kita, lebih Tahu mana yang terbaik bagi kita. Apa saja yang kita inginkan dan kita senangi, belum tentu baik menurut pandangan Allah. Sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan dan tidak kita senangi belum tentu buruk untuk kita, menurut pandangan Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS Al Baqoroh : 216).
Sehingga, seharusnyalah kita sebagai ummat-Nya selalu menggantungkan diri kepada-Nya. Mengkomunikasikan segala keinginan kepada-Nya. Memohon petunjuk dan bimbingan untuk dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas segala ketentuan yang ditetapkan.
Menyertakan do’a dalam setiap usaha. Dan lapang dada, tawakkal kepada Allah terhadap segala yang terjadi. Sehingga kehidupan ini akan menjadi nikmat dijalani. Nikmat yang dianugerahkan-Nya akan menambah ketaatan kita, dan cobaan yang diberikan akan menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya.
"Robbi awzi’nii an asykuroo ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii ‘ibaadikashshoolihiin”.
Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS An Naml:19). Wallaahu 'a’lam

TANGISILAH DIRIMU



Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.
Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145)

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82).

 Wallahu A'lam.


PENYAKIT DALAM DAKWAH


Penyakit dalam Da’wah terbagi menjadi 2 kelompok yaitu:

1.   Penyakit-penyakit da’wah terkait dengan ma’nawiyah (moral)

Amradhud Da’wah kelompok ini terdiri dari:

a.   Munculnya da’wah-da’wah yang bersifat infi’aliyah (reaktif )
Da’wah ini hanya memberikan reaksi karena aksi pihak lain. Da’wah ini adalah da’wah yang tidak menyentuh substansi permasalahan karena ia akan bergarak setelah ada aksi pihak lain yang tidak memiliki program tersendiri.

b.   Da’wah yang munculnya Al Wujahiyah (adanya figuritas)
Da’wah ini hanya mengharapkan hadir tidaknya seorang figur dan da’wah seperti ini tidak akan langgeng. Dalam Hadistnya Rasulullah berwasiat ketika haji wada’ “ Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang dengannya kalian tidak akan sesat jika memeganggang teguh keduanya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah” , ini berarti Rasulullah mendidik untuk berorientasi kepada program bukan kepada figur. Da’wah seperti ini banyak menimbulkan masalah karena jika figur dalam organisasi da’wah tersebut menghilang maka tercerai belahlah da’wah itu.

c.   Da’wah yang bersifat Al ‘itijaziyah
Da’wah ini bersifat bahwa hanya kelompok da’wahnyalah yang terbaik sehingga para anggota kelompok da’wah tersebut merasa ujub (paling hebat) dan mengakibatkan tidak dapat melihat kekurangan atau kelemahan dirinya. Da’wah ini juga menyebabkan anggotanya menjadi ghurur (terlena).

d.   Da’wah yang bersifat Al intiqasiyah
Da’wah yang selalu mengecilkan pihak lain sehingga organisasi-organisasi da’wah yang lain tidak dianggap mitra da’wahnya . Penyakit da’wah seperti ini biasanya seiring dengan sifat da’wah Al ‘Itijaziyah.





2.   Penyakit-penyakit da’wah yang terkait dengan amaliyah (operasional)

Amradhud da’wah yang terkait dengan amaliyah terdiri dari :

a.   Da’wah yang juz’iyah (bersifat lokal)
            Da’wah ini hanya bersifat sektoralisme yang seharusnya sumuliyah (segala aspek).

b.   Da’wah yang At Ta’lidiyah
            Da’wah ini membuat para anggotanya hanya mengikuti sesuatu tanpa memahami. Dalam kelompok da’wah harus dilakukan secara bashiroh (hujjah yang nyata) sebagaimana dalam Qs.12 : 108. Imam Hasan Al Bana menekankan dalam merumuskan pilar-pilar komitmen pada da’wah Islamiyah adanya 10 rukun bai’at pada rukun yang pertamanya dan utama adalah rukun Al Fahmu.

c.   Da’wah yang Al Afwaiyah atau Al Irtijaliyah
Da’wah yang tidak mempunyai kejelasan, tidak ada sasaran dan perencanaan sehingga tidak ada yang dapat dievaluasi. Setiap anggota da’wah harus mempunyai wawasan kedepan sesuai dengan Qs. 59 : 18.

d.   Da’wah yang At Tarki’iyah
            Da’wah yang tambal sulam yang seharusnya da’wah inqilabiyah yaitu menginginkan perubahan yang total. Ungkapan Sayyid Qutb “Bagaiman mungkin dunia yang sekarang tengelam dalam kejahiliyahan kemudian sekali-sekali meminta Islam memberikan  solusi kepada permasalahannya. Semestinya Jalankan dahulu Islam secara menyeluruh baru menanyakan masih adakah masalah yang dapat diselesaikan oleh Islam”. Da’wah ini harus menjelaskan kepada seluruh manusia ketika jalan hidup yang ditempuh bukan jalan Allah sesungguhnya jalan tersebut adalah jalan yang bathil yang harus ingkari. Dan mengajak umat manusia khususnya umat Islam kepada Islam yang menyeluruh.

            Sebagai solusi terhadap penyakit-penyakit da’wah baik dalam ma’nawiyah atau amaliyah  adalah dengan jalan membentuk Hizbullah yaitu suatu tandzim (organisasi) dimana seluruh umat Islam masuk kedalam tandzim tersebut. Dizaman yang tidak tegak khilafah Islam sekatrang ini maka tidak dapat mengharapkan tandzim yang dapat menghimpun seluruh umat Islam. Sejak runtuhnya khilafah Islam terakhir yaitu Daulah Usmani di Turki pada tahun 1924 Sekarang ini munculnya Jama’atul-Jama’atul minal Muslimin, seperti berdirinya Ikhwanul Muslimin di Mesir dengan pendirinya Imam Hasan Al Bana, Hizbut Tahrir di Yordania, Jama’ah Tabligh di Pakistan, Salaffi di Saudi Arabiyah dll. Ini merupakan  usaha untuk memberikan suatu penawaran kepada umat Islam pentingnya ada hizbullah untuk menghimpun umat Islam yang penataannya mendunia yang sifatnya tunggal dengan kepemimpinan yang mempersatukan umat Islam yang disebut jama’atul Muslimin.Sekarang ini belum ada Jama’ah Muslimin tetapi sudah terbentuk jama’ah minal Muslimin dan diharapkan jama’ah-jama’ah minal Muslimin saling fastabikul khairat dan saling bekerja sama.

Pertanyaan:
1.   Bagaimana solusi mencari figuritas dizaman sekarang ini yang dapat dijadikan tauladan selain Rasullah?
2.   Bagaimana merasa kalau kelemahan umat Islam karena dirinya?

Jawaban :
1.   Pada Qs. 33 : 21 menjelaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang terbaik, ini berarti hanya Rasulullah yang patut dijadikan tauladan yang tidak mempunyai sisi kelemahan sedangkan dizaman sekarang ini jika ditemukan figur yang dijadikan tauladan pasti akan ditemukan ketidak sempurnaan. Sekarang ini tidak dapat diharapkan individual leader tetapi yang harus ada adalah kolektif leadership yang terdiri dari beberapa sosok yang saling mengisi. Seperti yang dikatakan oleh Imam Hasan Al Bana Sesungguhnya sebaik-baiknya Qiyadah (pemimpin) adalah jika dalam hal istifadah ilmiah (pemanfaatan keilmuannya) dia seorang ustad, dalam hal ribatil qulb (keterikatan hatinya) dia seorang ayah, dalam hal tarbiyah ruhiyah dia seorang syekh dan dalam hal siasia da’wah dia seorang panglima.
2.   Sikap seperti itu baik karena jangan dibiasakan ketika terdapat permalahan mencari kambing hitam tetapi sebaiknya nmenyalahkan lebih dahulu. Tetapi ada sisi kelemahannya kalau sikap ini terlalu dominan akan menyebabkan rendah diri sampai akhirnya tidak akan melakukan da’wah lagi. Sikap ini akan terpuji jika memacunya untuk memaksimalkan kerjanya dengan keterbatasan dirinya.

Pertanyaan :
Apa tanggapan ustad dengan masyarakat sekarang ini yang tidak dapat membedakan antara budaya hidup modern dan western sedang mereka banyak terperangkap dengan pengaruh buruk dari budaya western?



Jawaban :
Hal ini banyak terjadi pada kaum muslimin khususnya bagi mereka yang sempat merasakan pendidikan di barat (luar negeri) dan sebelum pergi ke barat mereka belum mempunyai kepribadian Islam yang matang sehingga belum kebal terhadap budaya hidup di barat, terlebih lagi terleena dan terpesona dengan kemajuan di negeri barat dan bahayanya lagi setelah pulang menganggap Islam tidak dapat memberi kontribusi apa-apa. Muslim harus bersikap seperti yang disabdakan Rasulullah “ Hikmah adalah barang mutiara milik muslim” jadi dimanapun ditemukan seorang muslimlah yang paling berhak memanfaatkannya.

Pertanyaan:
Darimana umat Islam memulai untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya?
Jawaban:
Dari munculnya Hizbullah dari suatu barisan umat Islam yang telah dihasilkan dari proses kaderisasi yang kader-kadernya mempunyai beragam potensi dan kafaah (keahlian) masing-masing dan merekan diberikan peluang seluas-luasnya untuk mengekspresikannya sehingga akan muncul proses proyeksi, promosi dan nominasi kepemimpinan yang akan datang. Dan proses itulah yang dilakukan Rasulullah saw ketika mulai menggagaskan penataan barisan umat Islam sejak di Mekkah. Kongkrotnya dilakukan dengan small islamic inpirement harus membentuk kelompok-kelompok kecil, lingkungan pergaulan kaum muslimin yang berada didalam suatu proses kaderisasi tarbiyah yang dibimbing oleh seorang murabbi (pembina) yang mengoptimalkan potensi dan kafaah binaannya.

Pertanyaan :
Apakah ada cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan umat Islam secara keseluruhan?
Jawaban :
Gerakan da’wah menjadi inti perubahan umat maka aktivis da’wah harus memperbaiki diri sendiri dahulu baru da’wah kepada orang lain. Sekarang ini proyek Islam yang harus ditekankan pada kegiatan da’wah dan tarbiyah. Da’wah dalam konteks yang umum mengajak orang yang tidak faham Islam untuk mengenali Islam sedangkan tarbiyah untuk mengajak orang yang sudah kenal Islam agar berubah menjadi kader-kader inti dalam da’wah.


Wallahu A'lam 

Mata dan Hati


Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.
Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula.
Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 30-31)
Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu".

Hati berkata kepada Mata
Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad)

Sanggahan Mata terhadap Hati
Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: "Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati." (H.R. Bukhori Muslim dan lainnya).
Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya". Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.
Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita.
Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.
Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafiniifii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii bashorii. Aamiin.
Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku.

Wallahu A'lam

TIPS SHALAT TAHAJJUD



"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah
(untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari
padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari
seperdua itu sedikit, atau lebih dan seperdua itu. Dan
bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan.
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan
yang berat.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat
(untuk khusyu') dan bacaan di waktu malam itu lebih
berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai
urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu
dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang
berhak disembah) melainkan Dia, maka ambiltah Dia
sebagai pelindung." (QS. Al Muzzammil : 1-9)

Ada dua tips
agar tidak ketinggalan shalat malam (qiyamullail).
Kali ini, kita akan mencoba membahas tips yang ketiga,
yaitu mengingat bahaya rayuan setan yang dapat
menjerumuskan kita ke jurang kehancuran.

Sungguh rugi orang-orang yang tidak sempat melakukan
shalat pada malam hari, akibat kelalaian. Kerugian itu
karena ia tidak mendapatkan nilai amal shalih pada
malam hari dan tidak mempunyai bekal semangat untuk
beramal pada waktu berikutnya. Sebab, orang yang tidak
melakukan ibadah pada malam hari telah kehilangan
bekal untuk beramal pada siang hari.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda,
"Setan memasang alas kepala sebanyak tiga ikatan di
antara kamu bila tidur. Pada setiap satu ikatan
terpasang kalimat 'Bagimu malam yang panjang, maka
tidurlah'. Bila dia terbangun dan berdzikir kepada
Allah, maka lepaslah satu ikatan; jika ia berwudhu,
maka lepaslah satu ikatan lagi; dan bila ia melakukan
shalat, maka lepaslah ikatan talinya. Karena itu, ia
akan memiliki jiwa yang bersemangat (untuk beribadah
pada waktu berikutnya). Dan bila tidak (bangun), dia
akan mengalami kekotoran jiwa dan malas (beramal).
(HR. Bukhari-Muslim).
Hadits di atas, sesungguhnya mengingatkan kita tentang
beberapa hal, yaitu:

1. Setan selalu berupaya untuk melalaikan kita dari
amal shalih. Karena itu, hendaklah kita senantiasa
menyadari akan pentingnya berjuang menghadapinya.
Setan senantiasa mencari kelemahan kita. Dan, pada
waktu tidur tak ada seorang pun yang memilkiki
kekuatan. Langkah yang mesti ditempuh untuk
menghadapinya adalab berdoa dan berdzikir sebelum
tidur, serta berniat untuk bangun pada malam hari guna
taqarrub (mendekat) kepada Allah dengan Qiyamullail.

2. Setan mencurahkan segala upaya untuk menghalangi
kita beribadah, hingga dia menggunakan alat yang
mengikat kita agar merasa berat untuk beramal baik.

3. Alat yang digunakan setan untuk mengikat seorang
hamba tidak dapat dilihat manusia karena sebagaimana
setan makhluk ghaib, alat yang digunakannya pun
bersifat ghaib.

4. Sekuat apapun alat yang digunakan setan dapat
diiepas bila seorang hamba berdzikir mengingat Sang
Pencipta seluruh makhluk lagi Maha Kuasa Mematikan dan
Menghidupkan, seperti halnya Menidurkan dan
Membangunkan si hamba.

5. Orang yang telah mampu melepaskan diri dari ikatan
setan pada malam hari, dia akan menikmati kebebasan
bergerak (beraktivitas) pada siang harinya.

6. Sementara orang yang pada malam harinya tidak
berjuang untuk melepaskan diri dari ikatan setan, maka
pada siang harinya dia akan cenderung tunduk kepadanya
(setan), sehingga walaupun terlihat semangat bekerja,
namun dia bekerja lebih banyak atau hanya untuk
kepentingan dunia saja. Wallahua'lam. ***



ALLAHU AKBAR



Mendung masih menggelayut di langit kota Bandung, membuat suasana sore
tampak mendekati senja hari. Tapi suasana ini tidak menyurutkan langkah para
pembesuk pasien di ruang bedah untuk menjenguk dan memberikan semangat
kesembuhan pada sanak keluarga mereka yang tengah dirawat, tergeletak
menghitung hari demi hari.  dan di kamar 2 kelas II ini, saya bersama 5 pasien lainnya, juga tak henti menerima orang yang berdatangan, layaknya tuan rumah yang kedatangan tamu.
Hampir 3 hari setelah operasi "laminactomi" di vertebrae lumbal 5 di
punggung saya, rasanya sakit masih menghujam disekujur tubuh. Jarum infus
masih menancap di tangan saya. Tetes demi tetes cairan mengalir menemani
rasa kesepian yang sering menyergap saya saat rasa sakit menyerang pada
kedua kaki yang masih lumpuh "Bagaimana rasanya punggung kau hari ini Din? Opung liat, sepanjang hari ini kau gelisah kali." Sapa opung Hasan, pasen tetangga sebelah dengan logat Medannya yang kental. Hampir 2 minggu Opung yang ramah ini dirawat karena patah kaki dalam kecelakaan mobil.  "Masih sering sakit opung. Kaki kiri saya sampai sekarang masih nggak bisa di gerakkan" jawab saya pelan sambil melirik kaki kiri saya yang semakin
mengecil karena atrofi otot. Sehari setelah operasi saya sempat stress dan
histeris, karena shock menerima kenyataan bahwa saya harus mengalami lumpuh
sementara, setelah operasi punggung. Sebelumnya kaki kiri ini tidak lumpuh.
Penjepitan syaraf di punggung ternyata memang berpengaruh besar pada kondisi
kaki. Tak terasa saya menghela nafas sambil membayang hari-hari yang
menyenangkan bersama teman-teman saya, mengikuti kuliah-kuliah drg. Dede yang sangat saya senangi. "Sabar ya Din. Waktu pertama kali di operasi, ibu juga begitu. Nanti juga
nggak kok" tiba-tiba, ibu Sri, pasien tepat disebelah kiri saya menyapa
sambil tersenyum. Saya tersenyum merasa tersadar dari lamunan. Jujur saja,
saya begitu trenyuh melihat kakinya yang tergantung pada alat traksi. "open
fraktur" pada kaki kanannya menyebabkan kaki itu harus dipasang "pen".
Sebuah proses bedah ortopedi yang sering saya pelajari di kuliah-kuliah ilmu
bedah. Ibu Sri adalah pasien terlama di kamar 2 ini. Kecelakaan mobil
membuat dia terlempar dari bangku depan sebuah angkot dan malang tak dapat
ditolak, kaki kanan mengalami patah yang cukup parah. Pada saat terlempar,
ibu Sri berkata bahwa cuma satu kata yang dia sempat teriakkan, yaitu
"Allahuakbar". Subhanallah, tidak heran bila saat itu pula dia masih tetap
memegang erat kerudungnya agar tidak terlepas karena terhempas di jalan yang
beraspal. Allah, lindungilah dan beri kekuatan pada ora-orang seperti ibu
Sri, tanpa sadar saya sering berdo a saat sholat ditempat tidur saya.

Allahuakbar! Hampir jam 17.30! saya kaget melihat jam diatas dinding. Duh,
kenapa Aba belum datang ya? Saya mencari-cari seraut wajah didepan pintu
masuk. Tapi tetap belum kelihatan. Seharian sejak siang Aba dan emak pulang
kekost-an untuk istirahat. Kasian Emak berhari-hari tidak tidur menjaga saya
sejak oprasi. Kerut-kerut diwajah nya semakin kelihatan, menandakan betapa
Emak begitu memikirkan saya setiap saat.  " Emak dan aba pulang sebentar ya nak. Aba titip Dodo sama suster Susi ya" kata aba tadi pagi sambil menyibakkan anak-anak rambut dibalik kerudung saya. Saya tersenyum mengiyakan. "dodo" , itu panggilan sayang emak dan aba yang sangat saya senangi.  "Tapi nanti malam aba yang jaga khan?" tanya saya mengharap.  "Iya, emak istirahat dulu di kost-an dodo. Besok baru kesini lagi ya" jawab
emak. Duh, Allah..kalau ingat kamar kost saya, rasanya sangat tidak layak
buat emak yang biasa berlari-lari antara satu ruangan keruangan lain di
rumah kami di kampung. Tapi, memang mungkin sudah kehendak Allah, mungkin dengan cara ini kami sekeluarga diuji kesabaran dalam kesakitan. Waah! Hampir jam 6 sore! saya tersadar dari lamunan dan semakin gelisah. Entah kenapa , ruang putih ini rasanya begitu mengkungkung saya jam demi jam. Apakah karena saya terbiasa berlari-lari dari satu kuliah kuliah yang lain atau dari satu praktikum ke praktikum yang lain, sehingga mendekam di
kamar kotak seperti rasaya seperti berada di penjara. Satu-satunya yang dapat mengobati kesepian saya adalah Aba. Ya, aba yang sabar, aba yang tenang dan aba yang mendengarkan semua obrolan saya tentang koran yang baca atau tentang kondisi pasien di sekeliling saya, atau juga tentang mimpi-mimpi saya setelah sembuh nanti. Bagi saya, aba adalah ayah yang tau segalanya, sehingga saya tidak pernah bosan dijaga dan berada disampingnya.
Dalam keadaan sesakit apapun, aba tetap tenang dan menghibur saya untuk tetap kuat dan sabar. Bersama emak setiap pagi aba melatih saya berjalan disekeliling koridor. Kadang dalam hati saya sering menangis, merasa bahwa saya telah banyak menyusahkan. Tapi dengan segera perasaan itu juga hilang seketika, saat menatap wajah tulus mereka yang tidak pernah terkesan lelah. Apakah ini yang disebut dengan "never ending love"? Anak adalah darah daging orang tua. karena sebuah cinta kasih maka kita hadir kedunia ini. Sebanyak apapun kita beri harta sebagai balas budi kita pada mereka, rasanya memang tidak pernah sebanding dengan segala kecemasan, perhatian dan limpahan kasih sepanjang hidup kita. Memang, akhirnya kata Allah juga, bahwa hadiah terindah dan balasan terbaik untuk orang tua kita adalah setulus dan selaksa do a dari kekuatan iman yang kita bina agar dapat menyampaikan segala harapan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka, dengan sebuah kekuatan
ruhiyah yang menggelora. Betapa indahnya, maka hendaknya kita selalu
menyertakan mereka dalam do a shalat kita yang penuh makna.  " assalamualaikum" tiba-tiba suara yang sangat saya kenal terdengar dari arah pintu.  " waalaikum salam..aba!" seru saya tidak bisa menyembunyikan kelegaan.  "Naah, itu yang kau tunggu-tunggu sudah datang Din! Waah anak kau ini sudah gelisah kali rupanya Pak. Tampaknya dia takut, sebentar lagi "pembantaian akan dimulai" seloroh Opung Hasan menyambut aba.  "Kenapa Nak? Tadi nggak apa-apa kan? Pembantaian apa Opung?" tanya aba cemas,berjalan kearah ranjang sambil menaruh barang-barang bawaan diatas meja.  " Nggak Ba, Opung becanda aja. Itu lho Ba, sebentar lagi khan waktunya Suster Susi datang." Sahut saya dengan sedikit nada takut. Tidak heran memang kalau Opung bilang "pembantaian", sebab kunjungan suster Susi setiap
sore kekamar kami selalu membawa suasana pilu bagi saya dan semua penghuni
kamar. suasana pilu itu terjadi karena kami begitu sedih mendengar teriakan
kesakitan dari Ibu Sri, setiap kali kakinya dilepaskan dari alat traksi oleh suster susi. Sebagai suster kepala saya tau, bahwa Suster susi wajib membersihkan dan mengganti verban pebalut luka dikaki Ibu Sri, dan untuk melakukan itu, maka terpaksa kakinya yang patah harus diangkat dan dibolak-balik sedemikaian rupa agar hasil terbaik bisa dicapai. Maka bisakah sahabat membayangkan bagaimana sakitnya bila dua patahan tulang pada kaki
itu saling bergesekan dan menghujam luka yang menganga? Subhanallah teriakan dan lolongan "Allahuakbar" membawa suasana sedih sekaligus mengharukan bagi kami. Tanpa sadar kami para pasien saling komat-kamit berdo a agar "prosesi"  ini dapat dihadapi dengan tabah oleh Ibu Sri. Dan yang paling saya kagumi adalah sang suami yang dengan sabar membujuk, menyabarkan dan membantu Suster Susi dengan cekatan. Belahan jiwa begitulah seorang suami seharusnya. Sakitnya istri adalah sakit dia juga, sehingga timbul sebuah empati sepenuh jiwa tanpa harus banyak berkata-kata.  "Selamat sore semuanya" suara Suster Susi seperti memecah keheningan ruangan. Reflek wajah saya menoleh pada seperangkat alat bedah dan suntik serta deretan antibiotik berikut analgetik di atas meja dorong stainless
steel. Wajah ibu Sri saya lihat mulai pucat pasi. Kami tidak ada lagi yang bernafsu untuk bercanda. Suster yang sabar mulai mengganti verban pasien satu persatu dan memberi mereka nasehat-nasehat. Dan dengan sabar juga dia melakukan "prosesi" Ibu Sri disaksikan semua pasien yang saling menahan nafas kecemasan.  "Nah, sekarang giliran putri saya yang mungil ini. Siap? Kita suntik dulu ya?" dengan senyum suster mulai menyiapkan satu botol amoxan dan pelarutnya, saat kereta obat sudah nangkring didepan ranjang saya. Aba spontan memegang tangan saya yang di infus sambil mengelus pembuluh darah yang menonjol seolah menenangkan saya. Jujur saja, setiap obat ini disuntikkan lewat infus, sakit yang amat sangat mengalir ke sekujur tangan dan jari saya. Allah, kalaulah boleh saya meminta pada suster agar beliau tidak menyuntik, maka akan saya paksa. Tapi, saya sangat mengerti bahwa ini adalah prosedur kesembuhan yang harus saya lewati. Ikhtiar adalah usaha yang mesti kita
jalani, sebagai pengiring do a kita pada Allah, Sang Maha pemberi Kesembuhan.
"Ba, Dodo takut " tanpa sadar kata itu keluar dengan nada gemetar, nyaris menangis. Ah, terbayang sakit sebentar lagi menyerang saya.  "tenang ya Nak, cuman sebentar ko . Dodo khan mau sembuh. Bener khan suster?" ucap aba sambil tetap mengelus tangan saya yang semakin kurus. Suster Susi hanya tersenyum, dan  "Aakkhhh Allahuakbar! Ya allah, sakit sekali Ba " amoxan mulai disuntikkan ewat infus. Panas dan bara rasa menjalar disekujur tangan. Dengan tetap tenang, aba memijat tangan saya yang mulai membengkak. Tanpa terasa air mata saya menetes di kerudung. Suasana kamar begitu hening.
"Sabar ya Nak." Aba mengusap tetes air mata itu.  Saya mengangguk perlahan. Suster susi meninggalkan ruangan dengan kereta obatnya. Pelan-pelan panas itu menghilang, seiring dengan mata saya yang mulai memberat. Lemas sekujur tubuh membuat saya pasrah tak bergerak. Aba tetap mengelus tangan saya sambil membaca koran. Saat adzan maghrib tiba,
mata saya bergerak kesana kemari. Shalat bagi saya sekarang memang hanya mampu dengan mata saja.  "Sudah, sekarang tidur ya. Tangannya jangan banyak digerakkan, supaya tidak
bengkak." kata aba sambil merapikan selimut saya.  Saya cuma bisa mengangguk. Entah kenapa rasanya malam ini punggung dan kaki saya lebih sakit dari kemarin. Tidak ada satu posisipun yang enak buat saya memejamkan mata barang sejenak. Tapi saya paksa juga. Sekilas saya masih sempat melihat aba yang sibuk berdo a.  Menit demi menit berlalu. Saya masih belum bisa memejamkan mata. Bahkan sakit itu rasanya semakin menusuk. Ya Allah, berilah hambamu kesempatan barang sejenak saja untuk terlepas dari rasa sakit ini, agar hamba bisa istirahat, hati saya sibuk berdo a. Seperti sejuta sembilu, kedua kaki saya
rasanya disayat-sayat dan dibebani oleh batu yang begitu berat. Semakin membuat panik karena keduanya tak dapat saya gerakkan. Tubuh seperti terhempas begitu saja tanpa saya punya daya untuk menggerakkannya.  " Adduuh sakit Ba, sa..sakit sekali dodo nggak kuat ba!" tak sanggup saya menangis lirih  Aba memijat kedua kaki saya dan membelai kening saya yang penuh keringat  " tahan ya Nak. Nanti juga hilang. Tadi khan sudah minum obat" jawab aba
lembut Tapi sakit ini tidak bisa kompromi. Semakin terasa menusuk tulang, seolah sembilu tersayat disana.  " Aaghh do..Dodo nggak kuat Ba. Nggak kuat. Tulang rasanya linu dodo..dodo
rasanya pengen mati aja ba .nggak tahan" air mata saya tak terasa menetes, rasanya saya sudah tidak sanggup lagi. Jarum infus mulai bergeser membuat tangan saya membengkak dan biru lebam. Slang kateter turut bergeser membut sakit semakin bertambah.Keringat dingin membasahi sekujur badan saya. Bibir rasanya perih karena saya sibuk menggigit menahan rasa sakit yang semakin tajam  "Jangan bilang begitu Nak. Dodo tidak boleh putus asa" "Panggilin dokter Ba! Panggilin dokter! Duuuh Dodo pingin disuntik penahan sakit tolong Ba, panggilin susteeer dodo nggak kuat lagi masya Allah!"  " Iya..iya, tapi Dodo sabar ya. Aba panggil dokter dulu"  Segera aba bergegas menuju ruang dokter. Ya Rabb, kasih sayang dalam ketenangankah ini? Sehingga aba menghadapi segala protes saya dengan tenang. Saya teringat emak. Andaikan saja emak ada, mungkin suasana akan lebih heboh. Emak adalah simbol kasih sayang yang lain bagi saya. Kasih sayang dalam kecemasan. Sebuah empati yang mengharukan, amat sangat. Walaupun kasih sayang seperti ini tetap perlu ditenangkan oleh seorang yang lebih tenang tentunya. " kenapa gadis kecil ibu? Kesakitan ya? Hmmm..sekarang ibu coba suntik langsung di kakinya ya. Barusan dikasih obat sama dokter" tiba-tiba aba dan suster susi sudah berdiri disamping saya. Saya cuma bisa mengangguk lemah. Jarum suntik itu ditancapkan dikedua kaki saya, dan obat itu mengalir seketika. Dari sampulnya saya tau bahwa itu adalah ampul analgetik dosis tinggi, yang jarang diberikan kecuali "emergency".  "sekarang tidur yang nyenyak. Besok ibu kesini lagi" suster susi pun
meninggalkan ruangan.  Saya tak mampu menjawab. Hanya mampu menatap dua kaki saya yang tak bergerak. Tanpa sadar saya mengerang kesakitan. Entah kenapa saya rasanya ingin protes pada keadaan. Saya rasanya merasa begitu disengsarakan. Erangan kesakitan saya tiba-tiba menjadi tangis dalam kekesalan. Tatap nanar saya mencari-cari aba disudut ranjang, seolah-olah berkata "Ba, kenapa bisa sesakit ini? Kenapa begitu berat?? Kenapa harus saya? Bukankah saya punya begitu banyak hal yang ingin dikerjakan? Bukankah saya selama ini tidak pernah menyakiti siapapun? Kenapa? Kenapa harus saya?" Aba tiba-tiba menangkap "protes" saya, dan dengan lembut aba membelai kening saya.
"Nak, aba tau Dodo sakit. Tapi coba deh Dodo renungkan, bukankah memang dodo harus melewati tahap sakit seperti ini setelah operasi? Dodo pasti belajar itu dalam kuliah khan?
Saya mengangguk perlahan, bulir air mata masih menetes.  "operasi itu tidak mungkin langsung sembuh. Kalau dodo lagi menghadapi kondisi ini, maka dodo harus tanamkan terus dalam hati bahwa, besok dan besok lagi kondisi pasrti akan lebih baik. Semakin dikasih obat, luka dodo akan semakin sembuh. Sakit akan berangsur hilang. Bayangkan dan jadikan itu
semangat, sehingga dodo akan merasakan bahwa sakit itu justru jadi rahmat buat dodo"
"rah..rahmat Ba? Ta..tapi..sulit rasanya.." saya masih protes  "Lho semakin dodo tabah, dan sabar dalam sakit, maka itu bearti dodo sedang menghadapi jihad. Keyakinan untuk sembuh dan berusaha untuk sembuh serta selalu membersihkan hati dari perasaan "marah" sama Allah, itu merupakan jihad kita dalam kesakitan, Nak. Dan dalam sakit kita akhirnya justru
mendapatkan pahala" sambung aba lagi. Deg! Seperti ditampar rasanya muka ini. Seorang Aba yang bukan aktifis dakwah sama sekali ternyata berkata sesuatu yang seharusnya ada dalam benak dan jiwa saya. Tangis saya tiba-tiba berhenti. Aba menyeka kedua pelupuk mata saya dengan penuh kasih.  "Sekarang Dodo ikuti kata-kata aba ya..Allah..Allah Allah" aba mengucapkan "Allah" berulang-ulang didepan saya.  "Allah Allah Allah " saya mengucapkan kata itu, tanpa terasa tangan saya menggenggam jemari aba begitu erat. "Allah Allah Allah..Allah" air mata penyesalan saya mengalir deras. Ya Allah, ampuni saya. ternyata memang manusia itu lemah, tapi kadang kita "malu" buat mengakuinya. Malu itu bisa muncul dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk penyelewengan, penipuan, pemerasan dan seperti sekarang yang baru saya hadapi, kelemahan karena minimnya ketabahan dan keyakinan akan ujian dari Allah.  "jangan mengucapkan kata "aduh" ya Nak. Dalam sakit, sesakit apapun, dodo
harus tetap mengucapkan nama Allah. Insya Allah, sakit dodo akan mendapatkan rahmat".
"i iya Ba" tangan saya menggenggam semakin erat. "Allah Allah .Allah ." saya terus bergumam tanpa henti. Subhanallah tidak ada lagi fikiran kesakitan dalam benak saya. Rasa sakit justru terasa sebuah hempasan nikmat, karena membuat saya semakin khusyu mengucap nama-Nya. Perlahan mata saya pejamkan. Aba melepaskan genggaman saya perlahan. Dan menggelar sajadah di sudut ranjang. Dalam kantuk yang mulai memberati mata, sekilas saya pandang aba
yang menengadahkan tangannya berdo a dan saya yakin pasti ada do a buat saya
dalam keteduhan hati nya dan kehangatan cintanya sebagai seorang ayah. Tanpa sadar saya pun bergumam lirih " Allah, berikanlah rahmat-Mu pada Aba dan emak. Bahagia dunia dan akhirat. Rabbighfirli waliwadaiiya warhamhuma kamaraobbayani saghira". Amiin. "Allah .allah allah..allah .allah saya terus "mengobati" kedua kaki saya. Opung dan Ibu Sri telah lelap dalam tidur mereka. Insya Allah, besok pasti lebih baik dari hari ini. Saya yakin itu.
Dan malam pun semakin beranjak ke peraduannya.
 Wallahu A'lam.
kosakata:
Aba : ayah
Laminactomi : operasi pengambilan sebagian tulang belakang (lamina)
Atrofi otot : pengecilan ukuran otot karena lama tidak berfungsi
Open fraktur : patah tulang yang menyebabkan sobeknya otot sekitarnya
Pen : alat untuk menyetukan dua tulang yang terputus
Bedah ortopedi : bedah tulang
Dodo : panggilan untuk anak kedua perempuan
Traksi : alat untuk menarik atau memfiksasi tulang pasca operasi agar tidak bergerak

Amoxan : antibiotik serbuk.

ALAM BARZAKH


            Manusia adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dari [1] tanah (at-turab) dan ruh. Allah SWT membekalinya dengan hati, akal dan jasad, sehingga manusia memiliki tekad (al-‘azmu), ilmu dan amal. Dengan berbekal ketiganya manusia diberi amanah oleh Allah SWT, sebuah amanah yang makhluk-makhluk lain yang besar-besar, jauh lebih besar dari manusia, seperti langit, bumi dan gunung-gunung, menolak untuk menerimanya (33:72). Amanah yang diterima manusia berupa ibadah (51:56) yang merupakan tujuan penciptaannya dan khilafah (2:30) yang merupakan fungsi manusia di dunia. Kedua amanah ini kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hari akhir.
            Sesungguhnya manusia hidup bukan hanya di dunia saja, tetapi telah menjalani kehidupan lain sebelum ke dunia dan akan menjalani kehidupan lainnya lagi setelah di dunia. Itulah tahapan-tahapan kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati (1), lalu Allah menghidupkan kamu (2), kemudian kamu dimatikan (3) dan dihidupkan-Nya kembali (4), kemudian kepada-Nya-lah kamu.” (2:28).
Secara garis besar penjelasan ayat di atas ditunjukkan oleh Tabel 1.
Tabel 1 Mengapa kamu kafir kepada Allah??
No
Potongan Ayat
Keterangan
1
padahal kamu tadinya mati
Mati
2
lalu Allah menghidupkan kamu
Hidup
3
kemudian kamu dimatikan
Mati
4
dan dihidupkan-Nya kembali
Hidup
5
kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan
Dikembalikan
Secara lebih rinci, seluruh tahapan kehidupan yang telah dan akan dialami manusia ditunjukkan oleh Tabel 2. Seluruh manusia akan mengalami 14 (empatbelas) alam, dari alam ruh hingga surga/neraka. 11 alam di antaranya adalah alam setelah manusia mati. Sungguh perjalanan yang sangat panjang menuju surga/neraka.
Tabel 2 Seluruh tahapan kehidupan manusia
AYAT 
ALAM ANTARA
ALAM UTAMA
padahal
 kamu tadinya mati

1) Alam Kesatu : ALAM ROH /ALAM ARWAH
yakni alam Awal manusia diciptakan dan tidak ada satupun manusia mengetahuinya karena bagi Allah SWT tidak ada batas Ruang / Waktu dan Tempat
lalu Allah menghidupkan kamu
2) Alam Kedua : ALAM RAHIM
yakni alam dimana manusia tercipta melalui suatu proses pembenihan di dalam Rahim/ kandungan yang lamanya sudah ditentukan 9 bulan
3) Alam Ketiga : ALAM DUNIA
yakni alam ujian sebagaimana yang kita sedang alami bersama sekarang ini.
kemudian  kamu dimatikan
4) Alam Keempat : ALAM SAKARATUL MAUT
yakni alam pada saat roh manusia dicabut oleh Allah swt yakni alam antara Dunia menuju alam kubur
5) Alam Kelima : ALAM KUBUR atau ALAM BARZAH,
yakni alam di mana manusia akan memperolah Siksa atau Nikmat kubur tergantung perbuatannya selama hidupnya di dunia sambil menunggu datangnya hari kiamat. Dan bagi yang memperoleh nikmat kubur,  mereka para ahlul kubur seperti tidur saja  layaknya
dan dihidupkan-Nya kembali
6) Alam Keenam : KIAMAT atau disebut AKHIR ZAMAN atau Yaumul Qiyamah yakni alam dimana Allah swt memusnahkan Bumi - mahluk hidup beserta seluruh isinya Lihat Situs kiamat
7) Alam Ketujuh: KEBANGKITAN
8) Alam Kedelapan : ALAM MASYHAR yakni alam dimana Manusia dibangkitkan kembali dari Alam Kubur oleh Allah swt serta berkumpul di Padang Masyhar dan masing masing manusia tidak mengenal satu sama lainnya
 kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan
9) Alam Kesembilan:  BALASAN
10) Alam Kesepuluh: DIHADAPKAN KEPADA ALLAH DAN PERHITUNGAN
11) Alam Kesebelas: KOLAM
12) Alam Keduabelas: TIMBANGAN
13) Alam Ketigabelas: JALAN
14) Alam Kesembilan : SORGA DAN NERAKA
a) ALAM SORGA: alam kenikmatan bagi manusia yang selamat setelah dihisab oleh Allah SWT
b) ALAM NERAKA: alam kesengsaraan/siksaan bagi manusia yang tidak selamat setelah dihisab oleh Allah SWT

Alam Kubur (Al-Barzakh)
            Alam kubur disebut juga alam barzakh (dinding), karena kubur adalah dinding yang memisahkan antara dunia dan akhirat. Di dalam al-Qur’an kata ”barzakh” disebut di tiga ayat, yaitu 23:100, 25:53 dan 55:20. Barzakh yang bermakna kubur terdapat pada surat 23:100. Allah SWT berfirman, ”Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” Sedangkan surat 25:53 dan 55:20 berkaitan dengan dinding pemisah antara dua lautan.
Allah SWT banyak menyebutkan tentang kubur di dalam al-Qur’an baik secara eksplisit maupun implisit, begitu pula Rasulullah SAW di dalam haditsnya yang mulia. Firman Allah SWT tentang alam kubur:
”dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (22:7).
”dan tidak sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (35:22)
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.” (60:13)
”pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala.” (70:43)
”kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur.” (80:21)
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.” (100:9)
”sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (102:2)
”yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.” (17:52)
”Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (9:84)
”Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”  (23:16)
”Berkatalah orang-orang yang kafir:"Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)?” (27:67)
”Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (43:11)
            Rasulullah SAW bersabda: ”Apabila seseorang dari kamu berada dalam keadaan tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan berdoa: yang bermaksud: Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu dari siksaan Neraka Jahannam, dari siksa Kubur, dari fitnah semasa hidup dan selepas mati serta dari kejahatan fitnah Dajjal.”
            Dalam Lu’lu’ wal Marjan hadits no. 1822 – 1826 [4] disebutkan sabda Nabi SAW:
            ”Sesungguhnya seorang jika mati, diperlihatkan kepadanya tempatnya tiap pagi dan sore. Jika ahli sorga, maka diperlihatkan sorga, dan bila ia ahli nereka (maka diperlihatkan neraka). Maka diberitahu: Itulah tempatmu kelak jika Allah membangkitkanmu di hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)
            ”Nabi SAW keluar ketika matahari hampir terbenam, lalu beliau mendengar suara, maka bersabda: Orang Yahudi sedang disiksa dalam kuburnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
            ”Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan dalam kuburnya dan ditinggal oleh kawan-kawannya, maka didatangi dua malaikat, lalu mendudukannya keduanya dan menanyakan: Apakah pendapatmu terhadap orang itu (Muhammad SAW)? Adapun orang beriman maka menjawab, ’Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusanNya.’ Lalu diberitahu: Lihatlah tempatmu di api neraka, Allah telah mengganti untukmu tempat di sorga, lalu dapat melihat keduanya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
            ”Seorang mu’min jika didudukkan dalam kuburnya, didatangi dua malaikat, kemudian dia mengucapkan, ’Asyhadu an laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah’ maka itulah arti firman Allah, ’Allah akan menetapkan orang yang beriman dengan kalimat yang kokoh (14:27)’.” (HR. Bukhori dan Muslim)
            ”Ketika selesai Perang Badr, Nabi SAW menyuruh supaya melemparkan dua puluh empat tokoh Quraisy dalam satu sumur di Badr yang sudah rusak. Dan biasanya Nabi SAW jika menang pada suatu kaum maka tinggal di lapangan selama tiga hari, dan pada hari ketiga seusai Perang Badr itu, Nabi SAW menyuruh mempersiapkan kendaraannya, dan ketika sudah selesai beliau berjalan dan diikuti oleh sahabatnya, yang mengira Nabi akan berhajat. Tiba-tiba beliau berdiri di tepi sumur lalu memanggil nama-nama tokoh-tokoh Quraisy itu: Ya Fulan bin Fulan, ya Fulan bin Fulan, apakah kalian suka sekiranya kalian taat kepada Allah dan Rasulullah, sebab kami telah merasakan apa yang dijanjikan Tuhan kami itu benar, apakah kalian juga merasakan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar? Maka Nabi ditegur oleh Umar: Ya Rasulallah, mengapakah engkau bicara dengan jasad yang tidak bernyawa? Jawab Nabi: Demi Allah yang jiwaku di TanganNya, kalian tidak lebih mendengar terhadap suaraku ini dari mereka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

 Wallahu A'lam